SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN SMP NEGERI 37 OKU PROPINSI SUMATERA SELATAN

Minggu, 11 Maret 2012

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH


BAB   I  
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri.  Salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru.
Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif ( datang, duduk, nonton, mencatat,latihan, …., dan lupa). Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. menurut Erman Suherman, ada  hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati (senang) untuk belajar, yaitu kebanyakan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, siswa tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti.
Berdasarkan pengamatan penulis di SMPN 37 OKU, terdapat beberapa kendala pada pembelajaran selama ini antara lain :
  1. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep.
  2. Siswa kurang aktif / siswa pasif dalam proses pembelajaran.
  3. Siswa belum terbiasa untuk bekerja sama dengan temannya dalam belajar.
  4. Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
  5. Hasil nilai ulangan / hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah.
  6. KKM tidak tercapai.
  7. Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa.
  8. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran.
Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru untuk menerapkan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi Akademik dengan pendekatan Realistik di SMPN 37 OKU, dengan menyusun berbagai perangkat pembelajaran yang dibutuhkan seperti : RPP, alat peraga, teknik pengumpulan data, dan instrumen yang dibutuhkan untuk membantu guru dalam mengelola kelas dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Apakah penerapan model-model  pembelajaran   melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 37 OKU.”
Secara operasional rumusan masalah di atas dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
  1. Apakah penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi Akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 37 OKU?
  2. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi guru dalam penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU?
  3. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU  pada pembelajaran di kelas VII, VIII, IX ?

C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.      Meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 37 OKU pdengan enerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi Akademik dengan pendekatan realistik.
  1. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dalam penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU.
  2. Meningkatkan Kemampuan siswa terhadap penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU  pada pembelajaran di kelas VII, VIII, IX ?

D. Manfaat Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.
a. Manfaat bagi siswa :
1.      Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
2.      Meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar.
3.      Meningkatkan penguasaan konsep.
4.      Menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama dengan teman.
b. Manfaat bagi guru:
1.        Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
2.        Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk peningkatan mutu pembelajaran.
c. Manfaat bagi sekolah :
1.        Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis.
2.        Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.














BAB  II   
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan
Pada bagian ini, penulis bermaksud mengemukakan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan pengertian untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan PTS ini, sebagai gambaran yang tentu ada kaitannya dengan materi pembahasan. Isinya berupa teori-teori yang diambil dari berbagai sumber.
Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar ( Udin Winataputra, 1994,34).
Banyak model-model pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar yang pada prinsipnya pengembangan model pembelajaran bertujuan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang efetif dan efisien, menyenangkan, bermakna, lebih banyak mengaktifkan siswa.
Dalam pengembangan model pembelajaran yang mendapat penekanan pengembangannya terutama dalam strategi dan metode pembelajaran. Untuk masa sekarang ini perlu juga dikembangkan system penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar bisa saja mengembangkan model pembelajaran sendiri dengan tujuan proses pembelajaran lebih efektif dan efisien, lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi, sehingga siswa lebih aktif.
Berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut pendapat para tokoh pendidikan antara lain:
  1. Agus Suprijono : pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
  2. Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
  3. Richard I Arends : model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.
Kompetensi dasar Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

Supervisi Akademik
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuan mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glicman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran.
Prinsip-prinsip supervisi akademik:
a.    Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah
b.    Sistematis artinya dikembangkan sesuai perencanaan program supervise yang matang dan tujuan pembelajaran
c.    Objektif artinya masukan sesuai aspek-aspek instrument
d.   Realistis artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya
e.    Antisipatif artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi
f.     Konstruktif artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.
g.    Kooperatif artinya ada kerjasama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.
h.    Kekeluargaan artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
i.      Demokratis artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervise akademik.
j.      Aktif artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi
k.    Humanis artinya mampu menciptakan hubungan kemanusian yang harmonis, terbuka, jujur, sabar, antusias dan penuh humor.
l.      Berkesinambungan artinya supervise akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh kepala sekolah.
m.  Terpadu, artinya menyatu dengan program pendidikan
n.    Komprehensif artinya memenuhi ketiga tujuan supervise akademik diatas.

Pendekatan Realistik
Pembelajaran selama ini terlalu dipengaruhi pandangan bahwa Pembelajaran merupakan alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep/ sifat/ teorema dan cara menggunakannya. Guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimiliki ke pikiran anak dan anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis. Adakalanya siswa menjawab soal dengan benar namun mereka tidak dapat mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. Siswa dapat menggunakan rumus tetapi tidak tahu dari mana asalnya rumus itu dan mengapa rumus itu digunakan. Keadaan demikian mungkin terjadi karena di dalam proses pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya.
Perubahan cara berpikir yang perlu sejak awal diperhatikan ialah bahwa hasil belajar siswa meruapakan tanggung jawab siswa sendiri. Artinya bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi secara langsung oleh karakteristik siswa sendiri dan pengalaman belajarnya. Tanggung jawab langsung guru sebenarnya pada penciptaan kondisi belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang baik (Marpaung, 2004). Pengalaman belajar akan terbentuk apabila siswa ikut terlibat dalam pembelajaran yang terlihat dari aktivitas belajarnya.
Pendekatan realistic a menekankan untuk membawa pembelajaran pada pengajaran bermakna dengan mengkaitkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat realistik. Siswa disajikan masalah-masalah kontekstual, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi realistik. Kata realistik disini dimaksudkan sebagai suatu situasi yang dapat dibayangkan oleh siswa atau menggambarkan situasi dalam dunia nyata (Zulkarnain,2002).

B. Penyelesaian Masalah
Berdasarkan kajian teori di atas, maka dengan melalui kegiatan penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU, kepala sekolah  dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU 






BAB  III  
METODE PENELITIAN

A. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan di SMPN 37 OKU  terhadap  sembilan orang guru di SMPN 37 OKU.  Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dimulai  1 April 2011 sampai dengan 1 Agustus  2011.

B. Prosedur Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah, dengan empat langkah pokok yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, dengan melibatkan sembilan orang guru SMPN 37 OKU. Penelitian dilakukan  tahapan secara berkelanjutan selama 3 bulan. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan realistik di SMPN 37 OKU. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru SMPN 37 OKU dalam menerapkan model-model  pembelajaran, interaksi siswa dengan guru dalam proses belajar mengajar, interaksi dengan siswa dengan siswa dalam kerja sama kelompok, dan aktivitas siswa dalam diskusi kelompok.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi berupa hasil karya penyusunan KTSP, wawancara dan instrument analisis penilaian.
1. Perencanaan Tindakan
a) Pemilihan topik
b) Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan    pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
c) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
d) Merencanakan penerapan pembelajaran
e) Menentukan indikator yang akan dijadikan acuan
f) Mempersiapkan kelompok mata pelajaran
g) Mempersiapkan media pembelajaran.
h) Membuat format evaluasi
i) Membuat format observasi
j) Membuat angket respon guru dan siswa

2. Pelaksanaan Tindakan
Menerapkan tindakan sesuai dengan rencana, dengan langkah-langkah:
1.      Setiap guru yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara guru lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
2.      Guru yang ditunjuk menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
3.      Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan kelas untuk mendapatkan umpan balik.

3. Pengamatan (observasi)
1.      Observer melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi
2.      Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.
3.      Pada tahap ini seorang guru melakukan implementasi rencana pembelajaran yang telah disusun, guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran.
D. Teknis Analisis Data

Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila : 
  1. Peningkatan nilai rata-rata siswa kelas VII, VIII, IX, Peningkatan nilai rata-rata 6,5
  2. Tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar :
    Tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dinilai berhasil apabila masing-masing aktivitas yang menunjang keberhasilan belajar persentasenya di atas 70 %.
  3. Keterlaksanaan langkah-langkah dalam proses belajar mengajar ≥ 80 %















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Kondisi Awal

Dari hasil wawancara terhadap sembilan orang guru, peneliti memperoleh  informasi bahwa semua guru (sembilan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP dengan menerapkan model-model pembelajaran, hanya seorang yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya  1 orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP yang menerapkan model-model pembelajaran didalamnya, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dengan menerapkan model-model pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP yang menerapkan model-model pembelajaran secara lengkap.
Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap sembilan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP penerapan model pembelajaran tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban).  Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.
Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran dari Siklus ke Siklus

B. Siklus I (Pertama)
Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2)pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi seperti berikut ini.
1. Perencanaan ( Planning )
1. Membuat lembar wawancara
2. Membuat format/instrumen penilaian RPP penerapan model-model pembelajaran
3. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran siklus I dan II
4. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran dari siklus ke siklus

2. Pelaksanaan (Acting)
Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP penerapan model-model pembelajaran belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti.  Hal itu dibuktikan  dengan masih adanya komponen RPP penerapan model-model pembelajaran yang belum dibuat  oleh guru.  Sebelas komponen RPP penerapan model-model pembelajaran yakni:  1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11)  penilaiaan hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban).

3. Pengamatan
Hasil pengamatan pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:   Pengamatan dilaksanakan bulan April 2011, terhadap sembilan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP penerapan model-model pembelajaran tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi.  Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.
-  Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
-  Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal,  pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
-   orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
-  Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
-  Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.
Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

C. Siklus II (Kedua)
Siklus ke juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil pengamatan pada siklus dapat dideskripsikan berikut ini:
Pengamatan dilaksanakan Bulan Juli 2011, terhadap sembilan orang guru. Semuanya menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi.  Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut:
 -   Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
-   Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
-   Satu orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
-   Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.
Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

D.  Pembahasan
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Negeri 37 OKU Kabupaten Ogan Komering Ulu yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus negeri, terdiri atas sembilan guru, dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Kesembilan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP dengan penerapan model-model pembelajaran.Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, terjadi peningkatan dari siklus pertama ke siklus kedua.
1.     Komponen Identitas Mata Pelajaran
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
2.  Komponen Standar Kompetensi
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya.  orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

3.  Komponen Kompetensi Dasar
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik).
Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya.  orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
4.    Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi
Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%.  orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
5. Komponen Tujuan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik),  orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.
6.  Komponen Materi Ajar
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik),  orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan  orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.
7.  Komponen Alokasi Waktu
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajaran penerapan model-model pembelajarannya dengan alokasi waktu).  Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
8. Komponen Metode Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%.  orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),  lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
 9. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran).  Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang  mendapat skor 3 (baik).  Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.
 10.  Komponen Sumber Belajar
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan  guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya.  orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik).  Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
Penilaian Hasil Belajar
Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap.  Jika dipersentasekan, 56%.   orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan  3 (kurang baik dan baik), tiga orang  mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP penerapan model-model pembelajaran. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP penerapan model-model pembelajaran 69%,  pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP penerapan model-model pembelajaran 83%, terjadi peningkatan 14%.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.
-            Bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
-            Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan  dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan  kompetensi guru dalam menyusun  RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I
.
B.    Saran
Telah terbukti bahwa dengan  bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan  motivasi  dan  kompetensi guru dalam menyusun RPP penerapan model-model pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.
-            Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .
-            RPP penerapan model-model pembelajaran yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP penerapan model-model pembelajaran  secara lengkap dan baik karena RPP penerapan model-model pembelajaran  merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
-            Dokumen  RPP penerapan model-model pembelajaran hendaknya dibuat  minimal  rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.



















DAFTAR PUSTAKA

Darma Surya, (2009). Bahan Belajar Mandiri Dimensi Kompetensi Suvervisi. Jakarta: Direktorat jendral peningkatan Mutu pendidikan Nasional
Erman Suherman, (2009). Model-model Pembelajaran http ://re-searchengines.com/1207trimo1.html Penelitian Tindakan Sekolah
S Syaodih Nana, (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah(konsep,prinsif,_______  dan instrumen). Bandung : Aditama.
Sudrajat Akhmad. Pendekatan Pembelajaran
Udin Winataputra,( 1994,34), Model pembelajaran
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan ________Nasional.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan ________Dasar dan Menengah.
Piet, A. Sahertian. Frans Mataheru, Prinsip Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya, Usaha ________Nasional, 1981






Selasa, 21 Februari 2012

JURNAL MATEMATIKA


PENGEMBANGAN SOAL-SOAL OPEN-ENDED PADA POKOK BAHASAN BARISAN DAN DERET BILANGAN DIKELAS IX SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Jon Erwin*

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) untuk menghasilkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di SMP Negeri 37 OKU; (2) untuk melihat efek potensial soal-soal open-ended terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (development research). Subjek penelitian adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 37 OKU sebanyak 32 orang. Pengumpulan data menggunakan walkthrough, analisis dokumen, dan tes soal open-ended. Semua data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis data menyimpulkan bahwa (1) penelitian ini telah menghasilkan suatu produk soal open-ended pokok bahasan Barisan dan deret bilangan untuk siswa kelas IX SMP yang valid dan praktis sebanyak 15 soal yang terdiri dari 8 soal tipe 1 (banyak jawaban dengan banyak solusi) dan 7 soal tipe 2 (banyak cara penyelesaian banyak jawaban). Valid tergambar dari hasil penilaian validator, dimana semua validator menyatakan sudah baik berdasarkan content, konstruk, dan bahasa dan juga hasil validasi butir soal dengan uji validitas dan perhitungan reliabilitas soal secara deskriptif kuantitatif. Praktis tergambar dari hasil uji coba small group dimana sebagian besar siswa dapat menyelesaikan soal open-ended yang diberikan. (2) prototype soal open-ended yang dikembangkan memilki efek potensial yang positif terhadap hasil belajar siswa, hal ini terlihat dengan munculnya beragam solusi jawaban siswa, dan rata-rata ketuntasan siswa hasil dua kali tes soal open-ended mencapai 71,87%
Kata Kunci: Penelitian Pengembangan, Soal Open-Ended, Barisan dan Deret Bilangan

Penulis adalah Guru SMP Negeri 37 Ogan Komering Ulu dan telah menyelesaikan pendidikan jenjang S-2 Pendidikan Matematika di Pascasarjana Universitas Sriwijaya
PENDAHULUAN
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran. Perubahan tersebut harus pula diikuti oleh guru yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pembelajaran di sekolah (di dalam kelas ataupun di luar kelas). Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher-centered) beralih berpusat pada peserta didik (student centered); metodologi yang dulu lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Siswa sebagai center akan meletakkan siswa sebagai subjek yang melakukan proses pemahaman matematika. Guru tidak disarankan untuk memberitahu jawaban akhir atau memberitahu strategi atau cara-cara (prosedur) yang harus ditempuh siswa, melalui probing questions diharapkan siswa akan sampai kepada jawaban yang diharapkan. Untuk sampai pada situasi seperti ini, memang guru harus meiliki kemampuan problem solving dan menggiring siswa melalui teknik-teknik bertanya.
Gambaran yang tampak dalam bidang pendidikan selama ini, pembelajaran menekankan lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar untuk soal-soal yang diberikan, proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif jarang dilatihkan. Buku pelajaran yang dipakai siswa kalau dikaji secara jujur, hampir semua soal yang dimuatnya kebanyakan hanya meliputi tugas tugas yang harus mencari satu jawaban yang benar (konvergen). Kemampuan berpikir divergen, yaitu menjajaki berbagai kemungkinan jawaban atas suatu masalah jarang diukur. Pemerintah dalam Permendiknas No 19 (2005), telah mengisyaratkan bahwa pembelajaran matematika dengan hanya memberikan soal-soal konvergen menyebabkan proses pembenaran pembelajaran yang aktif dan kreatif ditelantarkan, dan dalam satu pilar belajar disebutkan bahwa belajar itu untuk membangun dan menemukan jati diri, dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.Meningkatkan keterampilan pemecahan masalah merupakan tujuan utama dalam pembelajaran matematika. Dalam memecahkan masalah matematika, siswa tidak hanya menggunakan kemampuan matematika yang telah mereka miliki, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang matematika. Hal ini mengakibatkan pemecahan masalah dalam matematika dapat digunakan sebagai dasar pembelajaran konsep-konsep matematika, sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Sementara itu, masalah-masalah matematika terbuka (open problem) sendiri hampir tidak pernah muncul dan disajikan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah. Akibatnya bila ada soal atau permasalahan itu dianggap soal yang tidak lengkap. Padahal, soal seperti itu menuntut kreativitas siswa dalam menjawabnya karena dituntut berfikir lebih daripada hanya mengingat prosedur baku dalam menyelesaikan suatu masalah.
Untuk menanggulangi hal tersebut, didalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan fokus dalam pembelajaran matematika hendaknya pendekatan pemecahan masalah, yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. (Permendiknas Nomor 22: 2006). Untuk mengantisipasi model-model pembelajaran pemecahan masalah seperti yang diamanatkan kurikulum. maka diperlukan adanya pemberian soal-soal open-ended. Hal ini dikarenakan untuk mengungkapkan atau menjaring manusia kreatif itu, sebaiknya menggunakan pertanyaan pertanyaan terbuka (divergen), pertanyaan yang jawabannya lebih dari satu dan tidak bisa diperkirakan sebelumnya (Russeffendi ,1988:239).Disamping itu, pertanyaan divergen menuntut yang ditanya untuk menduga, membuat hipotesis, mengecek benar tidaknya hipotesis, meninjau penyelesaian secara menyeluruh dan mengambil keputusan. Soal-soal divergen (soal open-ended) tersebut dapat berupa soal yang meminta siswa untuk menganalisis, menjelaskan, dan membuat dugaan, tidak hanya menyelesaikan, menemukan, atau menghitung.Berdasarkan uraian tersebut, peneliti akan melakukan pengembangan soal-soal open-ended pada materi barisan dan deret bilangan, yang peneliti tuangkan dalam judul penelitian “Pengembangan Soal-Soal Open-Ended pada Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Sekolah Menengah Pertama.
Rumusan Masalah
Pada pembelajaran matematika dikelas IX SMP Negeri 37 OKU pokok bahasan barisan dan deret bilangan siswa terpaku hanya satu rumus dalam menyelesaikan soal atau permasalahan yang berkaitan dengan pokok bahasan tersebut dan siswa mengalami kesulitan jika soal-soal tersebut dalam bentul soal aplikasi yang dikaitkan dalam kehidupanya sehari-hari.
Tujuan Penelitian
1. Untuk menghasilkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis pada pokok barisan dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama
2. Untuk mengetahui efek potensial soal-soal open-ended terhadap hasil tes siswa pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di Sekolah Menengah Pertama
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, dan peneliti lainya :
· Guru
· Siswa
· Peneliti lain
:
:
:
Diharapkan dapat menggunakan soal open-ended pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan
Diharapkan dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa, yang dapat berimbas pada peningkatan prestasi belajar matematika.
Diharapkan sebagai masukan untuk mendesain soal-soal open-ended pada pokok bahasan lainnya.
Pendekatan Open-Ended
Pendekatan open-ended dilatar belakangi oleh anggapan siswa pada pengajaran matematika yang ditemuinya selama ini. Yang menurut Schoenfeld (Takahashi,2005) ada beberapa anggapan siswa terhadap pembelajaran matematika, yaitu : (1) Proses matematika formal hanya mempunyai sedikit atau tidak sama sekali discovery atau invention. (2) Hanya beberapa siswa yang mampu memahami materi, memecahkan tugas yang diberikan atau permaslahan matematika dalam waktu sebentar. (3) Hanya siswa genius yang benar benar memahami matematika. (4) Hanya beberapa siswa yang berhasil disekolah mengerjakan tugas, tepat, dan persis sesuai perintah guru. Melihat kenyataan tersebut, pendekatan pembelajaran matematika menurut beberapa tokoh harus dirubah, hal ini dikarenakan ”education for all” and ”Math for all”. Menurut Gtegno (Takahashi,2005) salah satu konsep yang penting dari peran guru adalah bagaimana caranya harus menstimulus siswa belajar matematika dan mendukung perkembangan mereka. Sedangkan Brown (Takahashi,2005) menyatakan bahwa siswa harus dipandang sebagai pembangun yang aktif dari pada penerima pasif .
Dari hal tersebut, muncul pendekatan open-ended yang dikembangkan di negara Jepang sejak tahun 1970an. Menurut Shimada (1997 :1) pendekatan open-ended berawal dari pandangan bagaimana mengevaluasi kemampuan siswa secara objektif dan berpikir matematika tingkat tinggi. Supaya matematika dapat disenangi dan dipelajari oleh semua siswa, maka permasalahan tertutup (closed problem) yang menuntut satu jawaban yang benar hendaknya diganti dengan permasalahan terbuka / open-ended problems. Shimada (1997:1) mengatakan pendekatan open-ended adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari pengenalan atau menghadapkan siswa pada masalah open-ended. Masalah open ended adalah suatu permasalahan yang diformulasikan mempunyai banyak jawaban yang benar. Sedangkan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian lebih dari satu disebut pembelajaran open-ended. Dengan kegiatan ini diharapkan pula dapat membawa siswa untuk menjawab permasalahan dengan banyak cara, sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian pembelajaran akan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah matematika.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diungkap bahwa pendekatan open-ended adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang dalam pelaksanaanya siswa dihadapkan dengan masalah terbuka yang menghendaki jawaban dengan banyak cara penyelesaian.
Soal Open-Ended dalam Matematika
NCTM (Vandewaele,2002) mendefenisikan masalah/soal open-ended sebagai situasi yang membiarkan siswa untuk mengalami masalah dengan angka-angka yang tidak beraturan, angka-angka yang banyak, informasi yang tidak lengkap atau mempunyai solusi-solusi ganda, masing-masing dengan konsekuensi yang berbeda. Sedangkan Shimada (1997) mendefinisikan soal open-ended adalah permasalahan yang diformulasikan mempunyai banyak jawaban yang benar.Masalah matematika terbuka (open-ended problem) dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu: (1). Problem dengan satu jawaban banyak cara penyelesaian, yaitu soal yang diberikan kepada siswa yang mempunyai banyak solusi/cara penyelesaian akan tetapi mempunyai satu jawaban. (2). Problem banyak cara penyelesaian dan juga banyak jawaban, yaitu soal yang diberikan kepada siswa yang selain mempunyai banyak solusi/cara penyelesaian, tetapi juga mempunyai banyak jawaban. Sifat ketebukaan dari suatu masalah dikatakan hilang, apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan, atau hanya ada satu jalan penyelesaian yang mungkin untuk masalah yang diberikan guru. Contoh penerapan masalah open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban.
Lebih lanjut Shimada (1997:27) mengemukakan bahwa secara umum terdapat tiga tipe masalah open-ended yang dapat diberikan, yaitu : (1) Menemukan hubungan, Soal ini diberikan bertujuan agar siswa dapat menemukan beberapa aturan atau hubungan matematis. (2) Mengklasifikasi, Siswa diminta mengklasifikasikan berdasarkan karateristik yang berbeda dari suatu objek tertentu untuk memformulasikan beberapa konsep tertentu. (3) Pengukuran, Siswa diminta untuk menentukan ukuran-ukuran numerik dari suatu kejadian tertentu. Siswa diharapkan dapat mengklasifikasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajari sebelumnya untuk memecahkan masalah.
Tujuan Pemberian Soal Open-Ended dalam Pembelajaran
Pemberian soal open-ended dalam pembelajaran menurut Syafrudin (2008) bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa strategi. Siswa yang dihadapkan dengan open-ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban, tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.Shimada (1997) mengatakan bahwa pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika dapat merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Sedangkan menurut Nohda (2001), dengan pemberian soal open-ended dapat membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa melalui melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa.
Ketika siswa dihadapkan pada soal open-ended tujuannya bukan hanya berorientasi pada mendapatkan jawaban atau hasil akhir tetapi lebih menekankan pada bagaimana siswa sampai pada suatu jawaban, siswa dapat mengembangkan metode, cara atau pendekatan berbeda untuk menyelesaikan masalah. Dalam pelaksanaannya hal tersebut memberikan peluang pada siswa untuk menyelidiki dengan metode yang mereka yakini, dan memberikan kemungkinan pengerjaan dengan ketelitian yang lebih besar dalam pemecahan masalah matematika. Sebagai hasilnya, dimungkinkan untuk mempunyai suatu pengembangan yang lebih kaya dalam pemikiran matematika siswa, serta membantu perkembangan aktivitas dan kreatif dari siswa.
Beberapa keunggulan pendekatan open-ended menurut Takahashi (2005): (1) Siswa mengambil bagian lebih aktif dalam pembelajaran, dan sering menyatakan ide-ide mereka. (2) Siswa mempunyai lebih banyak peluang menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematis mereka. (3) Siswa dengan kemampuan rendah bisa memberikan reaksi terhadap masalah dengan beberapa cara signifikan dari milik mereka sendiri. (4) Mendorong Siswa untuk memberikan bukti. (5) Siswa mempunyai pengalaman yang kaya dan senang atas penemuan mereka dan menerima persetujuan temannya. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diungkap bahwa tujuan dari pemberian soal open-ended dalam pembelajaran matematika adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal, melalui berbagai strategi dan cara yang diyakininya dalam menyelesaikan masalah, sehingga membantu perkembangan aktivitas dan kreatifitas siswa.
Mengkonstruksi Soal open-ended
Beberapa acuan dalam mengkonstruksi soal open-ended menurut Suherman (2003:129) adalah sebagai berikut : (1) Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata, dimana konsep konsep matematika dapat diamati dan dikaji oleh siswa (2) Menyajikan soal-soal pembuktian dapat dirubah sedemikian rupa, sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat sifat dari variabel dalam persoalan tersebut. (3) Menyajikan bentuk bentuk atau bangun geometri sehingga siswa dapat membuat konjektur (4) Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika (5) Memberikan beberapa contoh kongkrit dalam beberapa kategori, sehingga siswa bisa mengkolaborasikan sifat sifat dari contoh itu, untuk menemukan sifat yang umum (6) Memberikan beberapa latihan serupa, sehingga siswa dapat menggeneralisasi dari pekerjaannnya.
Dalam mengkonstruksi soal open-ended harus memenuhi beberapa syarat, Yang utama adalah soal tersebut memuat banyak cara penyelesaian dengan satu jawaban atau banyak jawaban, selanjutnya soal harus memenuhi kriteria, yaitu soal kaya dengan konsep, sesuai dengan level siswa, dan mengundang pengembangan konsep lebih lanjut. Serta dalam pembuatan soal open-ended, dianjurkan untuk guru menuliskan kemungkinan respon jawaban siswa terhadap soal tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
Subjek Penelitian dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Subjek penelitian adalah siswa kelas IX SMP Negeri 37 di Kabupaten OKU yang berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 14 orang perempuan.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian pengembangan atau development research tipe formative research (Tessmer,1999). Penelitian ini mengembangkan soal-soal open-ended yang valid dan praktis dalam pembelajaran matematika pokok bahasan barisan dan deret ilangan di kelas IX SMP, melalui beberapa tahap, sebagai berikut
Prosedur Penelitian
Self Evaluation
a. Analisis
Pada tahap analisis ini, merupakan langkah awal penelitian pengembangan. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap kurikulum dan buku paket/pegangan siswa, kemudian menentukan tempat dan subjek penelitian dengan cara menghubungi Kepala Sekolah dan guru mata pelajaran matematika di sekolah yang akan dijadikan lokasi penelitian serta mengadakan persiapan-persiapan lainnya, seperti mengatur jadwal penelitian dan prosedur kerjasama dengan guru kelas yang akan dijadikan tempat penelitian.
b. Desain
Pada tahapan ini akan dilakukan pendesainan kisi kisi, kartu soal, dan soal-soal open-ended pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan di kelas IX SMP. Desain produk ini sebagai prototype. Masing-masing prototype fokus pada tiga karakteristik yaitu : content, konstruk dan bahasa.
Karakteristik yang menjadi Fokus Prototype
Content
Soal open-ended harus sesuai dengan :
· Kompetensi Dasar
· Indikator
Konstruk
Soal yang dibuat harus sesuai dengan teori dan kriteria soal open-ended, yaitu :
· Mempunyai banyak cara penyelesaian
· Kaya dengan konsep yang berharga
· Sesuai dengan level siswa kelas IX SMP
· Mengundang pengembangan konsep lebih lanjut
Bahasa
· Rumusan kalimat komunikatif.
· Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta sesuai EYD.
· Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
· Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung siswa.
c. Tes Soal Open-Ended
Untuk memperoleh data tentang efek soal open-ended terhadap hasil belajar siswa, maka digunakan tes. Tes akan dilakukan terhadap siswa pada subjek penelitian untuk melihat efek soal open-ended terhadap hasil belajar siswa. Tes ini akan dilakukan untuk melihat jawaban siswa terhadap soal open-ended yang diberikan, berdasarkan kriteria sebagai berikut : (1) Kelancaran berpikir (fluency), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide / gagasan. (2)Keluwesan (flexibility), yaitu kemampuan untuk mengajukan bermacam macam pendekatan atau jalan pemecahan terhadap permasalahan. (Munandar, 1999:88)
Teknik Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
· Analisis deskriptif ini digunakan untuk menganalisis data validasi ahli dengan cara merevisi berdasarkan wawancara atau catatan validator, dan pemeriksaan dokumen soal open-ended oleh validator dan guru one to one. Hasil dari analisis akan digunakan untuk merevisi soal-soal yang dibuat oleh peneliti.
· Analisis deskriptif ini juga digunakan untuk menganalisis data kepraktisan soal-soal open-ended, yang didapat berdasarkan hasil tes dan tanggapan selama siswa small group mengerjakan soal open-ended. Hasil dari analisis juga akan digunakan untuk merevisi soal-soal yang dibuat oleh peneliti.
b. Analisis Data Tes Soal Open-Ended
Analisis data tes soal open-ended ini digunakan untuk melihat efek dari soal open-ended terhadap hasil belajar siswa. Data tes soal open-ended yang diberikan kepada siswa, selanjutnya diberikan penskoran tehadap jawaban siswa berdarkan kriteria berikut:
c. Validitas dan Reliabilitas
(1). Validitas Butir Soal. Sebelum soal diujicobakan pada small group, soal diujikan pada siswa non subjek penelitian dan hasilnya digunakan untuk melihat validitas soal tersebut secara deskriptif kuantitatif. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah (Arikunto, 2002:144). Pada penelitian ini penulis menggunakan uji validitas dengan rumus Korelasi Product Momen (Arikunto, 2002:46) dan mengkategorikannya berdasarkan rumus Guilford J.P dalam Suherman (2003) dan juga menggunakan keberartian dari koefisien validasi digunakan uji-t seperti yang dikemukakan Sudjana(2002:380) (2). Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. (Arikunto, 2002:154). Pada penelitian ini penulis menggunakan uji reliabilitas untuk soal bentuk uraian yaitu dengan menggunakan rumus Alpha (Arikunto, 2002: 171)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Hasil Tes Pertama Siswa
Data hasil tes pertama soal open-ended dianalisis untuk menentukan rata-rata nilai seluruh siswa pada tes pertama, data lengkap analisis ulangan harian dapat dilihat pada lampiran. Data kemudian dikonversikan kedalam tabel berikut :
Tabel
Hasil Tes Pertama Siswa
No
Nilai
Frekuensi
%
1
2
3
4
5
80 - 100
60 - 79
40 - 59
20 - 39
0 -19
5
17
1
9
0
15.62
53.12
3.13
28.13
0
Jumlah
32
100
Dari tabel 23 diatas, terlihat bahwa pada hasil tes pertama siswa terdapat 68.74% siswa mencapai nilai ≥ 60, artinya sebanyak 68.74% siswa mencapai ketuntasan pada tes pertama, dan 31.26 % siswa belum mencapai ketuntasan.
Analisis Hasil Tes Kedua Siswa
Data hasil tes kedua soal open-ended dianalisis untuk menentukan rata-rata nilai seluruh siswa pada tes kedua, data lengkap analisis ulangan harian dapat dilihat pada lampiran. Data kemudian dikonversikan kedalam tabel berikut :
Tabel
Hasil Tes Kedua Siswa
No
Nilai
Frekuensi
%
1
2
3
4
5
80 - 100
60 - 79
40 - 59
20 - 39
0 -19
11
13
0
7
1
34.38
40.62
0
21.88
3.12
Jumlah
35
100
Dari tabel 31 diatas, terlihat bahwa pada hasil tes kedua siswa terdapat 75 % siswa mencapai nilai ≥ 60, artinya sebanyak 75 % siswa mencapai ketuntasan pada tes kedua, dan 25,7 % siswa belum mencapai ketuntasan.
Pembahasan
Prototype Soal Open-Ended yang Valid dan Praktis
Setelah melalui proses pengembangan yang terdiri dari 3 tahapan besar untuk 3 prototype dan proses revisi, diperoleh soal-soal open-ended pokok bahasan barisan dan deret bilangan yang dapat dikategorikan valid dan praktis. Soal-soal open-ended tersebut terdiri dari 8 soal tipe 1 ( satu jawaban dengan banyak solusi), dan 7 soal tipe 2 (banyak jawaban dengan banyak solusi), yang dibagi menjadi dua kali tes sesuai dengan kompetensi dasar. Kevalidan tergambar dari hasil penilaian validator, dimana semua validator menyatakan produk soal open-ended yang dibuat sudah baik, berdasarkan content (soal sesuai kompetensi dasar dan indikator), konstruk ( sesuai dengan teori dan kriteria soal open-ended : banyak solusi, kaya dengan konsep, sesuai level siswa, dan mengundang pengembangan konsep lebih lanjut), dan bahasa (sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku dan EYD). Selain itu kevalidan soal open-ended ini tergambar setelah dilakukan analisis validasi butir soal dengan uji validitas dan perhitungan reliabilitas soal secara deskriptif kuantitatif. Kepraktisan soal open-ended dilihat dari hasil pada uji coba small group, dimana sebagian besar siswa dapat menyelesaikan soal open-ended yang diberikan. Artinya soal open-ended yang dibuat mudah dipakai oleh pengguna, sesuai alur pikiran siswa, mudah dibaca, tidak menimbulkan penafsiran beragam, dan dapat diberikan serta digunakan oleh semua siswa.
Efek Prototype Soal Open-Ended terhadap Hasil Tes Siswa
Prototype soal open-ended pokok bahasan barisan dan deret bilangan yang sudah dikategorikan valid dan praktis, kemudian diujicobakan kepada subjek penelitian, dalam hal ini siswa kelas IX SMP Negeri 37 OKU. Pemberian soal open-ended ini terdiri dari dua kali tes, yang diberikan setelah siswa menyelesaikan materi barisan dan deret bilangan oleh guru yang bersangkutan. Pada pelaksanaan tes soal open-ended, dua hal yang dianalisis peneliti yaitu keberagaman solusi siswa dan hasil tes siswa. Keberagaman solusi siswa dari tes pertama sampai tes kedua terlihat pada grafik berikut:
Dari grafik 1 di atas, terlihat bahwa tes soal open-ended yang diberikan berhasil memberikan efek potensial yang positif bagi siswa , dengan banyak solusi yang dapat dimunculkan oleh siswa pada setiap tes soal open-ended yag diadakan. Rata-rata solusi yang dimunculkan siswa pada dua tes yang diberikan sebanyak empat solusi. Setelah menganalisis keberagaman solusi siswa, peneliti menganalisis tes siswa, untuk mengetahui efek potensial soal open-ended terhadap hasil tes siswa. Tes yang diberikan sebanyak dua kali, dengan acuan siswa dikatakan tuntas jika nilainya lebih dari atau sama dengan nilai KKM matematika yaitu 61.
Berikut ditampilkan grafik hasil tes soal open-ended siswa :
Dari grafik 2 diatas, terlihat bahwa pada tes pertama siswa yang mendapat ketuntasan adalah 68.74% dan siswa yang mendapatkan ketuntasan pada tes kedua adalah 75%, sehingga jika dirata-ratakan kedua tes tesebut maka terdapat 71.87% siswa yang telah mendapatkan ketuntasan . Dari hasil tersebut maka dapat dikategorikan pemberian soal open-ended pokok bahasan barisan dan deret bilangan dapat menimbulkan efek yang positif terhadap hasil tes siswa.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : (1) Penelitian ini telah menghasilkan suatu produk soal open-ended pokok bahasan barisan dan deret bilangan untuk siswa kelas IX SMP yang valid dan praktis. Produk soal terdiri dari 2 tipe. Tipe pertama (soal yang memiliki satu jawaban dengan bayak penyelesaian) terdiri dari 8 soal dan tipe kedua (soal yang banyak cara penyelesaian banyak jawaban) terdiri dari 7 soal. Valid tergambar dari hasil penilaian validator, dimana semua validator menyatakan sudah baik berdasarkan content (sesuai kompetensi dasar, dan indikator), konstruk ( sesuai dengan teori dan kriteria soal open-ended), dan bahasa (sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku dan EYD). Selain itu kevalidan soal open-ended ini tergambar setelah dilakukan analisis validasi butir soal, dengan uji validitas dan perhitungan reliabilitas soal secara deskriptif kuantitatif. Praktis tergambar dari hasil uji coba small group dimana sebagian besar siswa dapat menyelesaikan soal open-ended yang diberikan. (2) Berdasarkan proses pengembangan diperoleh bahwa prototype soal open-ended yang dikembangkan memilki efek potensial yang positif terhadap hasil tes siswa, hal ini terlihat dengan munculnya beragam solusi jawaban siswa, dan rata-rata ketuntasan siswa hasil dua kali tes soal open-ended mencapai 71.87%
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut: (1) Bagi guru matematika, agar dapat menggunakan soal-soal open-ended yang telah dibuat pada pokok bahasan barisan dan deret bilangan , sebagai alternatif dalam memperkaya variasi pemberian soal matematika untuk melatih berpikir kreatif siswa. (2) Bagi siswa, agar dapat terus bersemangat dan termotivasi untuk membiasakan diri mencari bermacam solusi dari soal open-ended yang diberikan. (3)Bagi peneliti lain, agar dapat dipergunakan sebagai masukan untuk mendesain soal-soal open-ended pada pokok bahasan lainnya.

TESIS MATEMATIKA


ABSTRACT



THE DEVELOPMENT OF OPEN-ENDED QUESTIONS
ON THE MAIN DISCUSSION OF THE ROWS AND SERIES NUMBERS IN IX CLASS OF JUNIOR HIGH SCHOOL NUMBER 37 OGAN KOMERING ULU
This objectives of this study are: (1) to generate the open-ended questions that are valid and practical in the main discussion of the rows and series numbers in SMP Negeri 37 OKU, (2) to see the potential effect of the open-ended questions towards the student learning outcomes in the main discussion of the rows and series numbers in SMP Negeri 37 OKU. This research is a development research. The subjects of this research were students in grade IX A of SMP Negeri 37 OKU with total 32 people. The data collecting technique used a walkthrough, document analysis, and test of open-ended questions. All data collected were analyzed by descriptive qualitative. Results of data analysis concludes that (1) This research has generated a product of the open-ended with the main discussion of the rows and series numbers for the student of IX grade of junior high school which are valid and practical. Valid is drawn from the results of the validators assessment, where all of the validators stated it have been good based on content, construct, and language. Practical is shown from the test results of small group where most of the students could complete the open-ended questions provided. (2) prototype of an open-ended questions that are developed have positive potential effects towards the student learning outcomes, as seen by the emersion of the variety of solutions from the students answers and the average of student mastery from twice test results of open-ended questions that reached 71.87%







Keywords: Research Development, Open-Ended Questions, Rows and Series Numbers